Wandi Badunk
JINGGA,RELUNG & DIMENSI
Senin, 26 November 2012
Sabtu, 11 Februari 2012
Terlalu banyak yang tak kau dengar dengan sempurna
Hingga suara-suara runtuh jadi puisi
Terlalu banyak yang tak kau pahami lewat cerita
Hingga kata-kata memilih jadi puisi.
Dan kau dengar suara-suara itu sebenarnya mati
Dan kau baca kata-kata itu sebenarnya sepi.
Tak ada yang tersisa selain reinkarnasi
Kau jadi rindu, aku jadi luka
Kita tenggelam pada bait-bait remukan hati
Senin, 02 Januari 2012
Rasa Ini
Rasa itu membekap menahan hembusan nafas ku
Angin terus berlalu pergi tanpa menoleh terhadap ku
Kau campak rasa ini
Kau hempaskan tubuh ini
Tergores sayatan luka karena cinta mu….
Tak jua kau menoleh menatap ku..
Rasa itu kini berlari meninggalkan serpihan perih
Kepingan-kepingan rindu teruslah menghantui ku
Kini…
Hanya helaian nafas yang mampu aku perbuat
Hanya denyut nadi yang mampu tersirat
Tak akan aku ingat lagi kisah cinta yang pernah kita
ukir..
Tak akan aku ingat lagi secercah sinar yang pernah
kita ciptakan
Biarkan semua berlalu mengisyaratkan cinta yang
baru
JINGGA
Apakah wujud dunia akan mempersembahkanSebuah
cerita cantik
Di pelataran hati akan ada hanya satunyanyian
Yaitu nyanyian-nyanyian tentang keindahan cinta
Apakah di dalam dunia tampa wuju akan ada yang abadi
Di lain dimensi akan ada hanya satu yang tetap
abadi
Yaitu wujud mu
Di setiap waktu akan terlewati
Dengan nyanyian-nyanyian berirama cinta
Di setiap ruang akan terisi
Terisi oleh warna-warna keindahan yang bernuansa
cinta
Ikutlah bersama ku…
Kita akan lintasi setiap fajar dan kota jingga
Dan akan beristirahat bersama purnama dan pijaran
bitang
Kita akan bangun kota awan dengan lingkaran pelangi
RELUNG
Di kedalaman relung jiwa ku menggema
nyanyian-nyanyian tanpa kata
Sebuah lagu yang bernafaskan dalam benih hati ku
Yang tiada tercairkan oleh tinta
Bertapa aku dapat mendesahkannya….
Aku cemas bila ia berbaur bersama eter dan fana..
Kepada siapa aku akan menyanyikan nya.??
Lagu itu di ubah oleh renungan..
Di kumandangkan oleh kegundahan..
Di lipat raat oleh kebenaran..
Di ulang-ulang oleh mimpi..
Dan di pahami dalam-dalam oleh kasih sayang
Berbuat Baiklah Dan Anda Akan Menerima Yang Lebih Baik Lagi
Bertahun-tahun dahulu, pada malam hujan badai, seorang laki-laki tua
dan istrinya masuk ke sebuah lobby hotel kecil di Philadelphia. Mencoba
menghindari hujan, pasangan ini mendekati meja resepsionis untuk
mendapatkan tempat bermalam.
“Dapatkan anda memberi kami sebuah kamar disini ?” tanya sang suami.
Sang pelayan, seorang laki-laki ramah dengan tersenyum memandang kepada pasangan itu dan menjelaskan bahwa ada tiga acara konvensi di kota.
“Semua kamar kami telah penuh,” pelayan berkata. “Tapi saya tidak dapat mengirim pasangan yang baik seperti anda keluar kehujanan pada pukul satu dini hari. Mungkin anda mau tidur di ruangan milik saya ?
Tidak terlalu bagus, tapi cukup untuk membuat anda tidur dengan nyaman malam ini.”
Ketika pasangan ini ragu-ragu, pelayan muda ini membujuk. “Jangan khawatir tentang saya. Saya akan baik-baik saja,” kata sang pelayan. Akhirnya pasangan ini setuju.
Ketika pagi hari saat tagihan dibayar, laki-laki tua itu berkata kepada sang pelayan, “Anda seperti seorang manager yang baik yang seharusnya menjadi pemilik hotel terbaik di Amerika. Mungkin suatu hari saya akan membangun sebuah hotel untuk anda.” Sang pelayan melihat mereka dan tersenyum. Mereka bertiga tertawa. Saat pasangan ini dalam perjalanan pergi, pasangan tua ini setuju bahwa pelayan yang sangat membantu ini sungguh suatu yang langka, menemukan sesorang yang ramah bersahabat dan penolong bukanlah satu hal yang mudah.
Dua tahun berlalu. Sang pelayan hampir melupakan kejadian itu ketika ia menerima surat dari laki-laki tua tersebut. Surat tersebut mengingatkannya pada malam hujan badai dan disertai dengan tiket pulang-pergi ke New York, meminta laki-laki muda ini datang mengunjungi pasangan tua tersebut. Laki-laki tua ini bertemu dengannya di New York, dan membawa dia kesudut Fifth Avenue and 34th Street. Dia menunjuk sebuah gedung baru yang megah di sana, sebuah istana dengan batu kemerahan, dengan menara yang menjulang ke langit.
“Itu,” kata laki-laki tua, “adalah hotel yang baru saja saya bangun untuk engkau kelola”.
“Anda pasti sedang bergurau,” jawab laki-laki muda.
“Saya jamin, saya tidak,” kata laki-laki tua itu, dengan tersenyum lebar.
Nama laki-laki tua itu adalah William Waldorf Astor, dan struktur bangunan megah tersebut adalah bentuk asli dari Waldorf-Astoria Hotel.
Laki-laki muda yang kemudian menjadi manager pertama adalah George C. Boldt. Pelayan muda ini tidak akan pernah melupakan kejadian yang membawa dia untuk menjadi manager dari salah satu jaringan hotel paling bergengsi di dunia.
Pelajarannya adalah…….. perlakukanlah semua orang dengan kasih, kemurahan dan hormat, dan anda tidak akan gagal.
“Dapatkan anda memberi kami sebuah kamar disini ?” tanya sang suami.
Sang pelayan, seorang laki-laki ramah dengan tersenyum memandang kepada pasangan itu dan menjelaskan bahwa ada tiga acara konvensi di kota.
“Semua kamar kami telah penuh,” pelayan berkata. “Tapi saya tidak dapat mengirim pasangan yang baik seperti anda keluar kehujanan pada pukul satu dini hari. Mungkin anda mau tidur di ruangan milik saya ?
Tidak terlalu bagus, tapi cukup untuk membuat anda tidur dengan nyaman malam ini.”
Ketika pasangan ini ragu-ragu, pelayan muda ini membujuk. “Jangan khawatir tentang saya. Saya akan baik-baik saja,” kata sang pelayan. Akhirnya pasangan ini setuju.
Ketika pagi hari saat tagihan dibayar, laki-laki tua itu berkata kepada sang pelayan, “Anda seperti seorang manager yang baik yang seharusnya menjadi pemilik hotel terbaik di Amerika. Mungkin suatu hari saya akan membangun sebuah hotel untuk anda.” Sang pelayan melihat mereka dan tersenyum. Mereka bertiga tertawa. Saat pasangan ini dalam perjalanan pergi, pasangan tua ini setuju bahwa pelayan yang sangat membantu ini sungguh suatu yang langka, menemukan sesorang yang ramah bersahabat dan penolong bukanlah satu hal yang mudah.
Dua tahun berlalu. Sang pelayan hampir melupakan kejadian itu ketika ia menerima surat dari laki-laki tua tersebut. Surat tersebut mengingatkannya pada malam hujan badai dan disertai dengan tiket pulang-pergi ke New York, meminta laki-laki muda ini datang mengunjungi pasangan tua tersebut. Laki-laki tua ini bertemu dengannya di New York, dan membawa dia kesudut Fifth Avenue and 34th Street. Dia menunjuk sebuah gedung baru yang megah di sana, sebuah istana dengan batu kemerahan, dengan menara yang menjulang ke langit.
“Itu,” kata laki-laki tua, “adalah hotel yang baru saja saya bangun untuk engkau kelola”.
“Anda pasti sedang bergurau,” jawab laki-laki muda.
“Saya jamin, saya tidak,” kata laki-laki tua itu, dengan tersenyum lebar.
Nama laki-laki tua itu adalah William Waldorf Astor, dan struktur bangunan megah tersebut adalah bentuk asli dari Waldorf-Astoria Hotel.
Laki-laki muda yang kemudian menjadi manager pertama adalah George C. Boldt. Pelayan muda ini tidak akan pernah melupakan kejadian yang membawa dia untuk menjadi manager dari salah satu jaringan hotel paling bergengsi di dunia.
Pelajarannya adalah…….. perlakukanlah semua orang dengan kasih, kemurahan dan hormat, dan anda tidak akan gagal.
Minggu, 01 Januari 2012
“Sepi menampar ku berkali-kali,
memaksaku untuk menyiasati peran dalam hidup,
aku mengerti tentang semua ini,.Namun Aku Tak lagi mampu,
bertahan dalam dendam,tertawa dalam tangis,mencinta dalam benci….Kamu
mengacaukan hariku..,Melumat awal pagi indahku.,Membuyarkan
moodku.,Memancing marahku.,DAn Memecahkan tenang ku..
Jumat, 30 Desember 2011
Langganan:
Postingan (Atom)








